![]() |
| *gambar diambil dari google |
Hallo apa kabar temen - temen
blogger? Long time no see,,, i think i miss you already...
Temen - temen, sepertinya semakin
kita dewasa banyak hal yang kita khawatirkan dalam hidup. Terkadang untuk
bahagia atau sekedar tersenyum pun tidak semudah saat kita masih kecil dulu. Maka
tidak heran, banyak orang – orang dewasa yang iri dan ingin kembali ke masa anak
– anak. Mereka bisa merasakan bahagia dengan cara – cara yang sederhana.
Seharian ini aku hanya berkutat dirumah
sakit bersama bapak. Sesekali aku buka handphone, namun seperti biasa semua
terkesan datar apalagi hari ini koneksi internet tidak sedang berpihak padaku,
alhasil serangan kebosankan melanda tiada henti. Banyak hal yang aku lakukan
untuk menyiasati dan menghilangkan rasa kebosanan ini, mulai dari membaca, tilawah
hingga akhirnya berinisiatif mengambil sebuah bolpoin dan blocknote yang aku
simpan didalam ransel kesayanganku.
Awalnya aku, bolpoin, dan
bloknote tiada reaksi apapun, kita hanya saling diam, canggung satu sama lain. Dan tiba
– tiba otakku berinisiatif untuk membahas tentang cinta. Cinta seorang perempuan diusia 20-an. Usia dimana setiap ada masalah hidup, inginnya diselesaikan
dengan cara menikah saja.
Banyak perempuan yang
berekspektasi tinggi tentang sebuah pernikahan. Mereka buru – buru dan saling
berlomba, bermimpi menggelar pesta pernikahan impian masing - masing.
Semakin menginjak usia 20-an, secara langsung maupun tidak orangtua kita akan
memberi desakan yang sangat kuat untuk segera menikah. Kita juga bakal sering
mendapatkan undangan dari teman – teman, entah itu teman sekolah, teman main,
teman kantor bahkan seseorang yang kita sendiri lupa pernah berteman dengannya.
Kita pun akan banyak menjumpai pasangan yang setiap hari, setiap jam, setiap saat memamerkan kemesraannya melalui media sosial. Apalagi jika kita hobi nonton film
Korea yang tergolong kelewat romantis, juga suka baca novel – novel yang bikin
baper setinggi langit, aaah...goyah sudah pertahanan hati ini. Siapa sih yang tidak ingin menikah? memiliki
partner hidup, partner diskusi, dan partner saat melaksanakan perjalanan jauh, sungguh nikmat Tuhan manakah yang kamu
dustakan?
Sayangnya, kenyataan tidak semua sesuai atau sama dg mimpi-mimpi kita. Kita boleh dan dibebaskan untuk berimajinasi, berangan - angan mengenai pernikahan impian kita, ingin menjalani kehidupan rumah tangga seperti apa nantinya, tetapi perlu kita ingat menikah
bukanlah perkara mudah yang cukup dengan modal uang, keinginan, ataupun mas
kawin saja. Pernikahan merupakan sebuah perjanjian yang suci, sakral, dan sangat
berat. Allah SWT menyebut pernikahan sebagai “Mitsaqon Ghaliza”. Salah satu
dari 3 perjanjian Agung selain perjanjian Allah SWT dengan Nabi – nabi
terdahulu serta perjajian Allah SWT dengan Bani Israil. Sebuah perjanjian yang
akan dimintai pertanggung jawabannya di akhirat kelak. Masyaa Allah..l
Jika ditanya mengenai kesiapan
diri kita pribadi, apakah kita benar – benar sudah siap? Jangan menikah karena
kesepian, karena ikut – ikutan orang lain, dan putus asa terhadap masalah hidup
kita. Agama yang aku anut pun tidak menganjurkan hal – hal demikian. Meski menikah
adalah sunnah nabi, namun menikah juga bisa menjadi haram jika niat kita tidak
baik, ada indikasi kebohongan, dan adanya tidakmampuan memberi nafkah kepada pasangan,
dalam hal ini bagi seorang laki – laki.
Pernikahan itu perlu dipersiapkan dengan matang, misalnya kesiapan mental dan
kesiapan ilmu seputar pernikahan. Coba deh kita lihat lagi, setiap perempuan
selalu mendambakan calon pasangan yang sempurna. Sosok lelaki agamis, sholeh, mampu
menjadi imam, dan yang hafalan Al-Qur’annya banyak. Tanpa sadar kita terlalu menggantungkan harapan
kita pada calon pasangan kita. Sedangkan kita pribadi enggan untuk memperbaiki
diri. Bukankah sudah jelas diterangkan bahwa
pasangan kita adalah cerminan diri kita. Misal saat kita melihat sosok ibu Ainun meski akhirnya beliau
hanya menjadi ibu rumah tangga, namun kepandaian yang dimiliki tidak kalah dengan pak
Habibie. Ummu Khadijah r.a dan Ummu Aisyah r.a yang meski rentang usia yang berbeda
jauh, namun mereka mampu menjadi pakaian sang Nabi Muhammad SAW.
Kita, perempuan merupakan seorang makluk yang diciptakan Allah SWT untuk pakaian suami dan sebaik – baiknya pakaian ialah wanita
sholihah. So, jika kita memiliki keinginan untuk menikah, tidak usah menghanyal
yang tinggi – tinggi, nanti jatuh, sakit, lama sembuhnya. Tidak ada salahnya
kan kita mulai memperbaiki diri? Hehe. Tulis saja daftar kriteria yang kita inginkan ada
pada suami lalu belajar mempraktekkan dalam kehidupan kita sehari – hari.
Semoga kita, para perempuan yang ingin menikah, mampu menjadi pakaian sang
suami dan mampu menggenapkan separuh agamanya. Selamat mencari, jangan cepat
lelah apalagi menyerah. Selalu ingat bahwa urusan rizqi, nasib, umur, apalagi
jodoh sudah Allah tentukan semenjak kita berada dikandungan. So jangan
khawatir yaaaa ^^
