happy moments, happy times, happy memories

PBL 1: Episode Terjun ke Lapangan

Seperti yang sudah aku tulis pada artikel sebelumnya (Episode 1), tanggal 16 – 26 juli 2013 fakultasku mengadakan Pengalaman Belajar Lapangan 1, dimana pada kesempatan ini kami sebagai mahasiswa calon Sarjana Kesehatan Masyarakat dilatih terjun ke lapangan untuk melihat langsung permasalahan kesehatan yang ada di masyarakat. PBL 1 menjadi ajang untuk mengaplikasikan ilmu yang sudah kami dapat setelah belajar 4 semester di FKM. Meski dalam PBL kali ini kami hanya menganalisa data masalah kesehatan masyarakat yang ada di daerah tersebut, serta tidak mengintervensi secara langsung seperti yang dilakukan pada PBL 2. Namun pengalaman yang didapat memberikan kesan yang mendalam mengingat ini pertama kalinya kami terjun ke masyarakat secara langsung.




Pengalaman belajar lapangan fakultas kami tidak sama layaknya mahasiswa fakultas teknik, hukum maupun ekonomi yang biasanya pergi ke luar negeri. Karena kami anak kesehatan, sehingga penempatan PBL dilakukan di desa terpencil yang notabene permasalahan kesehatannya masih banyak. Desa Wonorejo menjadi tempat kami melakukan penelitian dimana letaknya cenderung terpelosok bahkan jalan utamanya masih terbuat dari tanah liat yang terkadang berlumpur dan banyak kerikilnya. Namun desa ini bukan termasuk desa yang tertinggal karena sudah menjadi desa swasembada yang ada di kecamatan Guntur. Desa yang cukup maju dan sering mendapat penghargaan berkat dedikasinya menjaga kesehatan, bahkan kepala desanya mendapat sebutan sebagai “Duta Jamban” oleh dinas kesehatan setempat. Disamping itu, desa ini juga sering mendapatkan bantuan dana pembangunan diantaranya dari WHO dan Bank Dunia. Yang membuatku kagum desa ini dikepalai oleh seorang perempuan tangguh yang sangat mendedikasikan dirinya untuk kemajuan desanya.

Banyak hikmah pelajaran yang bisa dipetik selama sepuluh hari berada di desa Wonorejo. Kami belajar bagaimana mengahadapi masyarakat, bekerjasama dalam tim juga berkeluarga. Masyarakat diwonorejo sangat ramah – ramah dan pastinya agamis. Disetiap RT terdapat 1 mushola dengan 1 masjid per RW. Warganya rajin – rajin ibadah, terbukti selama mengikuti sholat tarawih disana, musholanya selalu dipenuhi jamaah yang akan melaksanakan sholat. Pada awalnya, kami sempat dibuat syok karena hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk sholat isya, tarawih serta witir. Pertama kali sholat disana benar – benar tidak kondusif serta tidak khusyu’ dikarenakan kami lebih sering tertawa tanpa sebab. Mungkin karena tidak bisa mengimbangi kecepatan sholat disana. Salah satu temenku berkata bahwa sholat disana seperti sholat menggunakan koneksi Speedy, sedangkan sholat disemarang seperti sholat dengan koneksi modem yang loadingnya bisa dibayangkan sendirilah. hahaha

Kegiatan utama yang sehari – hari yang kami lakukan ialah membuat laporan, kemudian dilanjut tidur, dan bermain. Sebenernya agak bosen juga karena desa wonorejo termasuk susah mendapat sinyal jadi kami seperti sedang diisolasi. Namun hal ini juga yang menjadikan kelompok kami lebih akrab karena lebih sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar main “uno” atau “poker”, bercerita seram maupun sesi curhat. Seiring berjalannya waktu, kami jadi lebih mengenal satu sama lain melalui karakter yang ditunjukkan selama berada di sana. Perbedaan karakter ini sangat terlihat jelas saat kami membuat laporan dimana terjadi banyak hal seperti beda pendapat, debat, maupun cara kami bekerjasama. Meski kadang ada hal yang bikin kecewa, sebel, kurang “sreg” namun dengan berpikir dewasa kami mencari solusi terbaik demi terciptanya laporan. Alhamdulillah tidak pernah ada perdebatan yang sampai membuat perpecahan dalam kelompok.

Kami mengakhiri pengalaman belajar lapangan dengan perasaan gembira, dengan oleh – oleh kenangan indah yang tak terlupakan. Sungguh sepuluh hari yang bermakna, semoga keindahan ini bisa terus berlanjut sampai pada episode SIDANG yang akan diadakan pada tanggal 3 september 2013. Pray for us!!!
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar