Hari ini aku akan berbagi cerita mengenai pekerjaan
orangtuaku sebagai seorang pemilik usaha warteg serta pengalamanku menjadi anak
pemilik warteg. Untuk para pembaca blogku yang tinggal di kota Semarang dan
mahasiswa Tegal yang merantau dikota Semarang pasti tidak asing dengan nama Warteg.
Usaha warteg saat ini sangat menjamur di Semarang. Berbeda dengan 10 tahun yang
lalu, jika dulu warteg masih jarang ditemui disudut kota semarang, sekarang ini
warteg banyak ditemui disepanjang jalan raya bahkan jalan kecil disekitar
Semarang.
Warteg atau Warung Makan Tegal merupakan tempat
makan yang menjadi ciri khas kota Tegal. Di daerahku yaitu di Margadana, hampir
semua warganya memiliki profesi sebagai pemilik warteg termasuk orangtuaku yang
juga memiliki warteg di Semarang.
Sebelumnya, orangtuaku memiliki warteg di Jakarta,
namun karena persaingan semakin ketat serta prospek masa depan yang terlihat
abu – abu (dikarenakan saat itu sedang ada krismon). Akhirnya pada tahun 1999,
orangtuaku membanting stir dan pindah haluan dengan merantau ke Semarang. Bermodal
uang pinjaman bank sejumlah 15 juta, mereka membuat warteg pertama di daerah
Kelud Raya. Warteg tersebut merupakan hasil patungan antara orangtuaku dan adik
kedua ibuku. Warteg tersebut kemudian diberi nama “Warteg Ibu Dewi”, nama
tersebut bukan berarti “wartegnya ibu Dewi” melainkan “warteg ibunya Dewi”
karena nama “Dewi” sendiri diambil dari nama panggilan anaknya yaitu Dewi yang
tidak lain adalah aku sendiri (hahaha, ngeksis). Nama ini telah menjadi brand name warteg milik keluarga
besarku, artinya yang menggunakan nama tersebut merupakan bagian dari keluaga
besarku.
Lambat laun, warteg Ibu Dewi mulai menunjukkan perkembangan yang tidak mengecewakan, dari yang dahulunya hanya ada 2 yaitu di Kelud Raya dan disamping RS Karyadi, kini telah memiliki lebih dari 20 cabang yang
tersebar diseluruh wilayah Semarang (terutama Semarang bagian bawah dan sekitar
UNNES). Untuk cabang yang benar – benar milik
orangtuaku sendiri hanya ada 5 tempat yaitu di jalan Menteri Supeno (disamping RS Karyadi), di
Kedung Mundu (Depan Masjid Batako), disamping SMA Kolese Loyola, di depan Pasar
Mrican, dan di daerah Puswogiwang. Namun dari semua cabang milik orangtuaku
tersebut, aku paling menyukai warteg yang berada di samping RS Karyadi karena menu
masakan yang disajikan sangat bervariasi terutama sayuran yang selalu disajikan
dalam keadaan hangat dan hijau. Untuk masalah tempat memang disini tidak
terlalu bersih, bukan karena tidak peduli kebersihan. Sebenarnya warteg dibersihkan dan dipel lebih
dari 3 kali, namun karena pengunjung silih berganti, membuat pegawainya
teradang kewalahan untuk sekedar membersihkan setiap kali tempatnya kotor.
Mungkin karena tempatnya kecil dan terkesan kotor sehingga masih ada beberapa orang yang
memandang sebelah tentang warteg baik pemilik maupun pegawainya. Yaa memang
seperti yang dilihat, warteg tak semewah restoran dan mungkin terkesan ndeso
tapi karena ndeso inilah warteg menjadi sangat merakyat, cocok untuk semua
kalangan dari mulai pejabat, artis sampai rakyat kecil bisa dan boleh mencicipi masakan
warteg. Aku sendiri sebagai anak seorang pemilik warteg sangat bersyukur dan
berbangga hati terhadap kedua orangtuaku. Berkat mereka, aku serta kedua
kakakku bisa melanjutkan sekolah sampai di bangku kuliahan, termasuk
mendapatkan kehidupan yang layak seperti sekarang ini.
Menjadi pemilik usaha warteg itu tidaklah mudah,
seperti kehidupan yang tidak mudah ini. Yaa pepatah yang mengatakan bahwa hidup
itu merupakan sebuah perjuangan yang panjang dan keras, dimana yang mampu
bertahan yang akan menjadi pemenang sejati memang benar adanya. Perjuangan orangtuaku
beserta keluarga besarnya dalam memulai usaha warteg di Semarangpun tidak
semudah seperti yang aku ceritakan diblog ini, banyak pengorbanan yang harus
dibayar, misalnya harus mengalami kebangkrutan, memiliki banyak hutang, dan
masih banyak lagi yang tak bisa aku ceritakan satu per satu.
Pengalaman menjadi anak pemilik wartegpun tidak
mudah, dari kecil harus mau ditinggal orangtua merantau, dititipkan di nenek
dan kakek atau di saudara, sekolah sendirian, hanya bisa bertemu orangtua saat
liburan sekolah karena pada momen liburan inilah kami bisa pergi ke tempat perantauan
orangtua. Saat orangtua pulang ke kampung halaman pun tidak sepenuhnya puas
karena mereka hanya menghabiskan waktu tidak lebih dari seminggu, kemudian
merantau lagi. Aku sendiri sering menangis saat orangtuaku akan pergi merantau,
kadang menangis langsung didepan mereka kadang pula menangis sendiri di kamar. Yaa
hampir semua anak pemilik warteg dibesarkan seperti ini, sebagian besar memiliki
cerita yang hampir sama denganku namun dibalik semua itu, selalu ada hal – hal positif
yang bisa dipetik salah satunya ialah kemandirian dan kemampuan memanage
sesuatu. Terlepas dari kesedihan jaman dahulu, aku selalu bersyukur dengan semuanya J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar