Berbicara
mengenai kota asalnya Jokowi memang tiada matinya, Solo merupakan salah satu
kota yang menarik untuk dikunjungi dimana hatiku telah tertambatkan dikota ini.
Kesan pertamaku terbilang cukup baik, kalau diibaratkan seperti menemukan cinta
pada pandangan pertama, berkesan dan akan selalu dikenang.
Jujur
selama hidupku ini baru kedua kalinya menginjakkan kaki dikota Solo. Berbeda
dengan kota yang telah aku kunjungi sebelumnya, ada banyak hal dari mulai
suasana kota yang asri, lokasi wisata yang menyegarkan serta keramahan dan
kekentalan adat jawa masyarakat Solo membuatku selalu rindu dengan tempat ini. Semoga
saja suatu saat nanti aku bisa bermukim ditempat ini, hehe aaamin.
Pertama
kalinya aku berkunjung ke Solo saat mengikuti acara kenegaraan KSR FKM yaitu studi
banding ke KSR PMI Unit UNS. Saat itu kami hanya mendapat bonus jalan – jalan ke
Kraton Solo dan Pusat Batik kota Solo sehingga kami tak sempat mengeksplorasi
keindahan kota ini. Baru saat kedua kalinya berkunjung ke kota ini yaitu awal
februari kemarin, kami sempatkan diri mengekplorasi keindahan Solo dalam waktu
dua hari semalam. Mungkin bisa disebut backpacker-an namun masih amatir karena
ini pengalaman pertama kami backpacker-an bersama.
![]() |
| salah satu foto di Kraton Solo bareng anak KSR |
Malam
hari sebelum keberangkatan, aku menginap dikos Tiwi didaerah Tembalang bersama
Dhian yang kebetulan kuliah di FK Unimus, sedangkan Amy tidak ikut menginap
karena masih banyak kesibukan sehingga kami berencana berkumpul keesokkan
harinya. Malam panjang itu, kami lalui dengan bercerita sembari menyusun
strategi backpacker-an. Berhubung kami mempunyai teman yang kuliah di UNS yaitu
si Ocha dan Rhere sehingga kami putuskan untuk menginap di kos mereka.
![]() |
| Rhere n Ocha |
Dipagi
harinya, cuaca tiba – tiba tidak bersahabat dengan kami karena
pagi itu diguyur gerimis yang cukup deras. Namun hal tersebut tak menghalangi
rencana awal kami. Pukul 09.30 WIB kami sampai di daerah Sukun, tempat mangkal
bis – bis antarkota didaerah Tembalang. Kami disarankan Rhere untuk naik bis “Royal”
namun hingga pukul 11.00 WIB bis tersebut tak kunjung datang. Sembari menunggu,
kami sempatkan untuk membeli tahu bakso sebagai buah tangan teman kami di Solo.
Setelah bertanya kepada penjual tahu bakso mengenai bis yang kami tunggu,
didapatkan fakta memilukan karena jadwal bis tersebut telah habis, sehingga
kami di sarankan naik bis “Safari”. Kami berempat akhirnya bergegas naik Safari
yang memiliki harga 25.000 Rupiah, cukup murah dan nyaman karena kondisinya
sepi dan ber-AC.
Perjalanan
menuju Solo ditempuh sekitar 3 jam. Layaknya orang baru ditempat yang baru pula,
sesampainya di terminal kami terlihat seperti orang kebingungan, bahkan sempat
dimarahi oleh petugas terminal gegara kami salah menuju jalan keluar. Namun
kami tak berkecil hati, kami justru tak menyadari jika kami sedang dimarahi,
hal ini karena cara mereka memarahi kami begitu sopan dengan nada bahasa jawa
krama yang terdengar lembut. Haha.
![]() |
| terminal di solo |
Kebingungan
kami berlanjut sampai didalam terminal, kami bingung memilih kendaraan mana
yang dapat mengantarkan kami menuju UNS. Akhirnya kami memutuskan untuk naik taksi,
sempat muncul rasa curiga karena taksi yang kami kendarai tak memasang argo. Dan
kecurigaan kami berubah menjadi mimpi buruk karena biaya taksi tersebut sangat
mahal untuk ukuran terminal – UNS yakni 40.000 Rupiah. Menyesal namun tak bisa
dihindari, akhirnya kami merelakan saja uang itu. Sampai ditujuan, kami
disambut hangat oleh kedua temanku, Ocha dan Rhere yang telah menunggu didepan
kos mereka. Kami kemudian istirahat sejenak sembari merancang destinasi mana
yang akan kami kunjungi selama dikota Solo. <bersambung>
![]() |
| The Park: Dhian, Tiwi, Ocha, aku, Amy, Rhere |




Tidak ada komentar:
Posting Komentar