happy moments, happy times, happy memories

Apa Kabar yang Lama Tak Berkabar?

Hallo para blogger? Apa kabar dihari ke-20 Ramadhan tahun ini? semoga ibadah kita selalu dalam ridho-Nya yaa. Lamaa tak bertukar cerita nih, dan kalo dipikir – pikir sepertinya ini merupakan hiatus terparahku dari dunia blogger setelah sekian tahun menjadi blogger amatir, haha.

Yuk mari berbagi cerita…
Sahabat blogger, kalo kalian tanya kenapa tiba – tiba aku menghilang kemudian tanpa memberi kabar sedikitpun, alasannya karena banyak hal yang kalo diceritain mungkin bakal sepanjang tembok china sana dan yang jelas kepergianku ini hanya untuk sementara saja kok, bukan tuk meninggalkan kalian selamanya, aku pasti akan kembali, ini buktinya…..haha kok jadi kaya lirik lagunya pasto.


Jadi cerita hiatusku ini bermula dari setelah aku resmi mendapatkan tambahan tiga huruf dibelakang nama menjadi Tri Dewi Rosida, SKM. Yeay… horeeee akhirnya setelah sekian lama berjuang jatuh bangun, akhirnya terlepas juga dari belenggu skripsi yang menyiksa. Pada awalnya aku kira setelah selesai studi kuliah, setelah putus hubungan dengan si skripsi hidupku akan jauh lebih bahagia, tiada beban, bebas sebebas – bebasnya. Namun tidak demikian, ternyata skripsi ini hanya sebagai pintu gerbang menuju fase ujian yang lain. Kalo diibaratkan nonton film, skripsi ini baru sebagai prolog saja. Setelah lulus, banyak hal yang tak kalah menjadi pikiran, banyak pertanyaan yang jauh membelenggu dalam pikiranku diantaranya mau kemana hidupku ini??? kerja??? nikah??? Tak mau larut dalam dilemma, akhirnya aku memutuskan untuk mencicipi dunia kerja. Segala hal aku persiapkan mulai dari foto, pakaian ala – ala pelamar kerja hingga membuat sivi semenarik mungkin. Rutinitasku diisi dengan mencari informasi jadwal jobfair, buka jobstreet, linkedIn, dan gabung di grup – grup pencari kerja. Pembelajaran hidup yang sangat terasa ialah mencari selembar uang itu tak semudah saat menghabiskannya. Ya Allah ma, pak, aku jadi menyesali hidupku yang sering menghambur – hamburkan uang untuk keperluan yang tidak jelas tidak berguna.

Sekitar 2 bulan menjalani proses mencari kerja kesana kemari, tes sana tes sini, panggilan – tolak dan sebagainya, akhirnya aku diberi kesempatan Allah untuk bisa mencicipi dunia kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi nasional yang lokasinya masih satu kota dengan tempat kuliahku. Step kehidupan baru dan bertemu orang – orang baru dengan berbagai macam karakter merupakan tantangan tersendiri. Pekerjaan pertamaku ini memang jauh berbeda dengan ilmu studi yang aku ambil semasa kuliah dulu, tetapi hal tersebut tidak menjadi halangan, meski awalnya kagok akhirnya aku bisa mengikuti ritme di tempat kerja seiring berjalannya hari. Setelah lebih dari sebulan menikmati kerja, aku dihadapkan pada dilemma hati yang menyiksa lantaran rasa tidak nyaman selama berada dilokasi kerja. Kesibukan pekerjaan membuatku tak memiliki waktu untuk diri sendiri, teman bahkan keluarga. Aku mulai kehilangan sebagian dari diriku, jam kerja dengan sistem shifting membuat waktu istirahatku semakin tidak teratur, tubuhku semakin kurus akibat menurunnya nafsu makan, senyumku makin hilang dikarenakan pekerjaanku yang setiap hari harus siap melayani menerima segala komplain pelanggan. Bersyukur sekali jika mendapatkan komplain yang ramah, namun jika dihadapkan pada pelanggan hard komplain, aah rasanya pengen pinjem kantong ajaibnya doraemon biar bisa ngeluarin alat apa aja yang bisa menghalau komplain pelanggan. Kemudian setelah 3 bulan bekerja, akhirnya aku memilih resign dan menjadi pengangguran kembali.

Tak banyak hal yang aku lakukan selama menganggur. Tak ada kegiatan pasti, kehidupan aku habiskan sebagian besar dirumah saja, bisa diibaratkan seperti ikan kering deh. Tak lama, mama menawarkanku untuk membantu menjalankan usahanya. Saat itu aku ditawarkan untuk jadi pelayan di rumah makan khas tegal yang ia kelola. Sempat ada rasa minder dan gengsi, bayangkan saja sehabis bekerja dengan pakaian necis serba rapi di perusahaan yang cukup dikenal oleh masyarakat akhirnya harus beralih menjadi seorang pelayan "warteg” yang mungkin saja dipandang sebagian mata oleh sebagian orang. Walaupun berat tapi aku paksakan diri untuk mencoba berani, membuang semua rasa negatif yang ada.

Pengalaman menjadi seorang pelayan warteg membuka lebar cara pandangku yang dulu terkesan sempit. Aku belajar untuk lebih menunduk seperti ilmu padi, membuang semua segala sesuatu yang membuat ‘merasa paling tinggi’. Aku belajar dari pegawai mama bahwa ‘tak peduli dimanapun kamu bekerja selama hatimu, jiwamu ada ditempat tersebut maka kamu akan nyaman dan bahagia menjalani pekerjaan tersebut’. Aku belajar tentang perjuangan orangtua membanting tulang, banjir keringat semata – mata untuk mencukupi segala kebutuhan buah hatinya. Dan diwarteg mama pula, aku banyak mengenal karakter berbagai macam pelanggan, banyak yang baik, lembut, ramah namun tidak jarang pula ditemui orang – orang yang menguji kesabaran. Karena usaha yang mama jalani ini sistemnya bergantian dengan omku setelah 4 bulan berdagang, aku hanya bisa membantu menjadi pelayan selama hampir 2 bulan saja. Aku hiatus lagi alias nganggur dirumah saja, hanya belajar menjadi ibu rumah tangga yang statusnya belum memiliki pasangan hidup. Haha.

Monotonnya kehidupan nganggurku, membuatku menemukan titik kejenuhan parah, dan rasa dilemma itu datang lagi. Kali ini aku bertanya lagi pada diri sendiri ‘Kali ini mau kemana? Dan mau apa?’ lalu aku teringat keinginan lamaku yang sempet terpendam. Aku ingin mengcharge hati, aku ingin lebih dekat dengan Allah, aku ingin jadi pribadi yang mandiri dan aku ingin keluar dari zona nyamanku,. Setelah berpikir panjang, akhirnya aku beranikan diri untuk bilang ke mama kalo aku ingin pergi ke “pe-san-treeen”. Keinginan yang cukup gila ini akhirnya mendapat dukungan penuh dari mama setelah sempat ragu mengutarakannya. Kalo kata mama “Dewi pengen ke pesantren mama justru seneng kalo anaknya bisa tau lebih banyak ilmu agama, supaya nanti jika mama dan bapak udah meninggal setidaknya ada anak yang bisa mendoakannya.”  Ah mama… you are my everything

to be continue yaa, hehe biar penasaran :p

“Tahukah anda? Ada satu kata yang tak perlu terjemahan dalam bahasa apapun di dunia, tetapi semua orang bisa memahaminya: MAMA. Barangkali karena tak perlu bahasa apapun menerjemahkan rasa cinta dan kasih sayangnya.’
-Fadh Pahdepie-
Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar