Senin, 02 November 2026

Tentang Cita - Cita yang Pernah Kita Usahakan Bersama


"Kita baru aja daftar haji bareng. Nanti berangkatnya bagaimana kalau kita sudah berpisah?"

Kalimat yang kuajukan kepadanya saat pertama kali kami memutuskan untuk berpisah. 

"Ya kita akan tetap berangkat. Ada beberapa orang yang sudah berpisah, tetapi tetap bisa berangkat bersama. Om & Tante kamu contohnya."

Kamu mengatakannya dengan begitu santai. Sementara di sisi lain, hati, pikiran, dan seluruh perasaanku masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku bahkan belum sepenuhnya memahami bagaimana kehidupan kami akan berjalan setelah ini, tetapi saat itu kami sudah membicarakan bagaimana nantinya akan menjalani perjalanan haji yang akan datang.

Rasanya belum genap dua bulan sejak kami mendaftarkan diri untuk ke Baitullah bersama. Siapa sangka, setelahnya, pernikahan kami justru berakhir tanpa direncanakan sebelumnya. Sebuah keputusan yang terasa begitu mendadak dan mengguncang hatiku

Padahal, berangkat haji bersama adalah salah satu cita-cita yang pernah kami bangun dan usahakan sejak awal pernikahan. Kami selalu berusaha tetap istiqamah menyisihkan sebagian rezeki setiap bulannya. Saling mengingatkan ketika salah satu dari kami lupa untuk menabung. Pokoknya, bagaimanapun caranya agar semua bisa terpenuhi sesuai target. Dan ngga papa banget selama menikah kami belum punya aset banyak, yang penting kami usahakan agar bisa cepat mendaftarkan diri untuk pergi ke Baitullah bersama.

Daaaaan, ketika jumlah saldo sudah mencukupi, dengan hati riang gembira kami bergegas menuju biro pendaftaran haji. Ada kebahagiaan tersendiri ketika akhirnya bisa mewujudkan salah satu rencana yang selama ini kami usahakan bersama. Kaya ada lagu we're the champions terdengar dalam otak kami.

Ah, ternyata kini semua itu hanya menjadi kenangan semata. Yang semakin diingat-ingat kembali justru terasa begitu pahit dan menyakitkan.

Terkadang aku masih bertanya-tanya, mengapa waktu itu kami memutuskan untuk mendaftar haji bersama jika pada akhirnya harus berjalan sendiri-sendiri?

Memang ada sedikit penyesalan. Namun, penyesalan ini bukan karena aku tidak ingin berhaji. No, no, no! Melainkan karena rencana yang begitu kuharapkan untuk diwujudkan berdua ternyata harus berubah menjadi sesuatu yang berbeda.

Ah ... aku juga tidak tahu nantinya akan seperti apa. Yang jelas, tahun keberangkatan kami sudah terpampang nyata di website kementrian haji. Ada tanggal yang sudah menanti di masa depan, meskipun aku belum tahu seperti apa ketika hari itu tiba.

Sejujurnya, dalam hatiku yang paling dalam, tidak pernah terlintas keinginan untuk mengakhiri pernikahan ini. Memang ada kalanya aku merasa lelah, bahkan hampir menyerah. Namun, selalu ada hal-hal baik yang membuatku memilih untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini.

Tapi aku tidak tahu dari sisinya, apakah jauh sebelum semuanya terjadi, dia sudah menyimpan keinginan untuk mengakhiri rumah tangga kami, atau keputusan itu muncul sebagai sesuatu yang baru dipikirkannya saat itu. Aku tidak pernah benar-benar tahu.

Yang jelas, pernikahan kami berakhir tidak lama setelah nomor porsi haji kami keluar.

Rasanya seperti baru saja diberi kabar baik, lalu seketika dijatuhkan dari tempat yang begitu tinggi. Ada kebahagiaan yang baru saja tumbuh, tetapi bersamaan dengan itu datang pula kehilangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.

Kini, setiap kali melihat berkas-berkas haji kami, rasanya selalu campur aduk. Namun aku masih tetap ingin mewujudkan cita-cita tersebut. Sebab, berhaji memang sudah menjadi salah satu impian yang kudambakan sejak dulu, bahkan jauh sebelum aku mengenalnya.

Jadi, cita-cita ini akan tetap kuusahakan, meskipun nantinya bukan lagi dengan orang yang dahulu kubayangkan akan mendampingiku.

Kadang ada beberapa rencana yang Allah izinkan untuk kita mulai bersama, tetapi tidak semuanya ditakdirkan untuk kita selesaikan bersama.

Terima kasih pernah menjadi bagian dalam mewujudkan salah satu cita-citaku. Semoga kelak perjalanan menuju Baitullah itu benar-benar sampai pada waktunya, meskipun kami mungkin tidak lagi berjalan berdampingan.

Tentang Cita - Cita yang Pernah Kita Usahakan Bersama

"Kita baru aja daftar haji bareng. Nanti berangkatnya bagaimana kalau kita sudah berpisah?" Kalimat yang kuajukan kepa...