Rokok
merupakan salah satu “mesin pembunuh” yang diperkirakan telah menyebabkan
kematian 300.000 orang per tahun di Indonesia, sedangkan di dunia diperkirakan
jumlah itu meningkat menjadi 5,4 juta kematian per tahun atau 1 kematian tiap
6,5 detik.
Merokok
sudah menjadi bagian dari kehidupan perokok sehingga untuk menghentikan
kebiasaan tersebut merupakan hal yang paling sulit dilakukan. Seseorang yang
benar – benar ingin berhenti merokok harus bergantung pada kesungguhan dan niat
individu masing-masing.
Ada
banyak metode / model yang dapat digunakan untuk terapi berhenti merokok, salah
satunya ialah Stage’s of Change. Suatu
model yang dikembangkan oleh James O. Prochaska dan Carlo DiClemente awal tahun
1980 yaitu suatu model perubahan bertahap untuk mengubah perilaku. Model ini
diketahui cukup efektif dalam membantu memahami bagaimana seseorang berada
dalam proses berubah hingga kemudian membuatnya berubah seumur hidupnya,
misalnya pada seorang perokok.
Model ini memiliki lima tahap yaitu:
1. Pre-contlempation
(Pra-Perenungan)
Tahap
perubahan awal semacam ini disebut pra-perenungan. Selama tahap
pra-perenungan ini, belum terlihat adanya perubahan yang terjadi. Seseorang
yang berada pada tahap ini sering disebut sebagai “dalam pengelakan”. Hal ini
disebabkan karena pengakuannya bahwa perilaku mereka tidak ada masalah. Dalam
beberapa hal, orang pada tahap ini belum menyadari apabila perilaku mereka itu
merusak.
2. Contemplation
(Renungan)
Pada
tahap ini, orang menjadi semakin sadar akan manfaat potensial bila membuat
perubahan, tetapi kelemahannya banyak memerlukan waktu dan biaya. Konflik ini
menciptakan perilaku bimbangan yang kuat mengenai perubahan. Akibatnya pada
tahapan perenungan terhadap perubahan bisa berlangsung selama berbulan-bulan
bahkan bertahun-tahun.
3. Preparation
(Persiapan)
Seseorang
bisa mulai membuat perubahan kecil pada tahap ini untuk mempersiapkan diri
melakukan perubahan yang lebih besar. Sebagai contoh seseorang yang ingin berhenti
merokok, maka bisa diawali dengan menurunkan jumlah batang rokok yang ia dihisap
setiap harinya. Bisa pula dengan melakukan tindakan langsung seperti melakukan
konsultasi kepada para ahli terapi, ikut kelompok senam, membaca buku – buku
berkaitan dengan rokok atau sekedar melakukan aktivitas dalam rangka mengurangi
kebiasaan merokoknya.
4. Action
(Tindakan)
Pada
tahap perubahan keempat ini, seseorang mulai melakukan tindakan langsung untuk
mencapai tujuan mereka.
5. Maintenance.(Pemeliharaan)
Pada
tahap pemeliharaan ini perlu perhatian tentang pentingnya komitmen terhadap
perubahan perilaku yang telah dilakukan. Kemungkinan relaps (kambuh lagi) harus
diidentifikasi sedini mungkin. Jika hal tersebut benar terjadi, maka perlu melakukan
konsolidasi diri dan sesegera mungkin kembali ke tujuan semula untuk terus
bersemangat mempertahankan apa yang telah anda capai.
Hambatan yang Sering Dijumpai
Selama
ini banyak perokok mengalami kegagalan untuk menghentikan kebiasaan merokoknya.
Salah satu alasan utama mengapa perokok gagal berhenti adalah ketidakmampuan
untuk merumuskan dan mengikuti program berhenti merokok dengan benar.
Kebanyakan kegagalan terjadi pada tahap perenungan dan tindakan. Penyebabnya
pada tahap renungan disebabkan memerlukan proses dan waktu yang tergolong lama.
Pada tahap ini perokok mengalami konflik yang dapat menciptakan kebimbangan
yang kuat mengenai perubahan yang ia lakukan. Prosesnya bisa berlangsung dalam
waktu berbulan – bulan bahkan hingga bertahun – tahun lamanya. Pada tahapan ini
pula, banyak perokok yang tidak berhasil. Hal ini dikarenakan seseorang akan
melihat perubahan sebagai suatu proses yang memberikan sesuatu yang lebih dari
sekedar memperoleh manfaat emosional, mental maupun fisik.
Kemudian
kegagalan juga sering terjadi pada tahap tindakan. Pada tahap ini seorang
perokok mulai melakukan tindakan langsung untuk mencapai tujuan mereka. Seringkali
resolusi yang telah mereka buat mengalami kegagalan karena kekeliruan dalam
mengambil langkah keputusan serta kurangnya kematangan dalam mengambil keputusan
dan kurangnya waktu untuk mencapainya. Misalnya perokok sudah mulai untuk
menghentikan kebiasaan merokok, namun karena persiapan yang kurang matang ia
kemudian tergoda untuk merokok kembali, hingga akhirnya ia tidak bisa lepas
dari merokok dan melakukan lagi kebiasaan merokok seperti semula bahkan menjadi
tidak bisa lepas dari merokok.
Seseorang
yang benar – benar ingin berhenti merokok harus bergantung pada kesungguhan dan
niat yang ditamankan pada individu masing-masing. Jika melakukannya dengan
bersungguh-sungguh maka akan mendapatkan perubahan sesuai yang diharapkan
tetapi apabila tidak serius maka akan sulit untuk mengubah perilakunya. Hal ini
dikarenakan dalam melakukan perubahan butuh proses yang tidak sederhana,
melibatkan komitmen substantial terhadap waktu, upaya dan emosi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar