Kamis, 08 Oktober 2026

Cara yang Kutempuh untuk Pulih



Untuk sembuh dari luka perpisahan, ternyata banyak hal yang kulakukan.

Sebulan terakhir banyak waktu yang aku lakukan untuk pergi ke sana kemari, mengikuti berbagai acara, mengunjungi tempat-tempat baru, bertemu orang-orang baru. Kadang bukan karena aku benar-benar ingin pergi, tetapi karena aku cuma pengen sebentar aja ngga mikirin kesedihan tentang selesainya episode hidup dengan seseorang yang dulu kupikir akan menjadi teman perjalanan hidupku.

Kalo kata temanku, aku seperti burung yang baru keluar dari sangkar.

Mungkin karena bertahun-tahun terbiasa berada di dalam sangkar, sebenernya bukan karena dikurung hanya saja dulu setiap hal yang kulakukan selalu ingin kulakukan dengan 'dia' sehingga tidak banyak pergi ke mana-mana, pergiku kebanyakan ya dengan 'dia'. Lalu ketika dia sudah tidak jadi bagian hidupku. Ibarat burung yang sangkar yang terbuka, aku terbang, pergi jauh kemana - mana. Mencoba melihat dunia yang selama ini mungkin terlalu jarang kulihat.

Ya, mau bagaimana lagi?

Bepergian adalah salah satu caraku untuk pulih.

Dengan pergi, aku bisa bertemu orang-orang baru, mendapatkan pengalaman baru, menemukan cerita-cerita baru. Dan yang paling penting, untuk beberapa saat aku bisa mengistirahatkan pikiranku dari tentangnya.

Mungkin bagi orang lain, aku terlihat seperti perempuan yang sedang menikmati hidup. Bahkan ada yang melihatku seperti "trophy wife", gelar impian para perempuan-perempuan yang sudah menikah. Tidak jarang orang-orang merasa iri melihat segala melihat aktivitas yang kutunjukan melalui sosial media.

Tapi memang begitulah dunia bekerja.

Orang hanya melihat apa yang tampak dari luar.

Mereka tidak melihat seberapa besar upaya yang kulakukan untuk terlihat baik-baik saja. Tidak sedikit pula untuk mengeluarkan materi hanya untuk mencari sedikit ketenangan. Tidak tahu bahwa di balik perjalanan-perjalanan itu ada hati yang sedang berusaha keras menerima kenyataan.

Aku pernah mendatangi psikolog.

Aku pernah pergi ke kajian.

Aku pernah bepergian jauh.

Aku mencoba banyak hal, seolah sedang melakukan rawat jalan untuk luka yang tidak terlihat.

Mungkin cara dia untuk sembuh berbeda. Mungkin dia cukup menjalani aktivitas seperti biasanya dan perlahan semuanya terasa biasa kembali.

Tapi tidak denganku.

Aku membutuhkan perjalanan, kesibukan, pertemuan, pengalaman baru, dan banyak hal lain untuk perlahan mengalihkan pikiranku dari kehilangan ini.

Aku tidak tahu bagaimana rasanya dari sisi dia.

Yang aku tahu, perpisahan ini sungguh mengguncang batinku sehingga ada rasa sulit untuk aku terima.

Dulu aku pikir kami akan baik-baik saja. Aku pikir 'dia' akan selalu menjadi seseorang yang seperti dalam bayanganku, seseorang yang baik dan memperlakukanku dengan baik. Aku pikir setelah lebih dari lima tahun berjalan bersama, kami akan terus menjadi teman perjalanan satu sama lain.

Ternyata hidup punya jalan cerita yang tidak pernah memberiku bocoran.

Seseorang yang dulu menganggapku sebagai dunianya ternyata dunia yang dimaksud ialah sebagian kecil, bukan seluruhnya.

Dan mungkin bagian paling menyakitkan bukan hanya tentang kehilangan seseorang.

Tetapi tentang menyadari bahwa kita bisa begitu berarti bagi seseorang pada suatu waktu, lalu perlahan tidak dibutuhkan lagi.

Seperti barang yang setelah tidak lagi dibutuhkan, cukup diletakkan dan ditinggalkan.

Jelas sakit rasanya.

Tapi terus menanyakan kenapa dia berubah juga tidak lantas bisa menemukan jawaban pastinya.

Sekarang aku hanya perlu belajar menerima bahwa manusia bisa berubah, perasaan bisa berubah, dan jalan hidup juga bisa berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara yang Kutempuh untuk Pulih

Untuk sembuh dari luka perpisahan, ternyata banyak hal yang kulakukan. Sebulan terakhir banyak waktu yang aku lakukan untuk perg...